“Apakah Sifat Rohani Bisa Diwariskan?”

“Apakah Sifat Rohani Bisa Diwariskan?”

“Apakah Sifat Rohani Bisa Diwariskan?”

Eli adalah seorang imam yang begitu baik.  Imam Eli-lah yang telah membimbing dan mendidik Samuel, sehingga Samuel juga belajar menjadi imam yang  baik  melalui contoh-contoh dan arahannya. Akan tetapi, ternyata kesuksesan Imam Eli ini tidak diikuti oleh anak anaknya. Bahkan Alkitab mencatat bahwa anak-anak Eli justru tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang jahat di mata ALLAH dan manusia. Peristiwa lengkap yang menimpa keluarga Imam Eli ini bisa ditemukan dalam 1 Samuel pasal 2-4. Tragis dan menyedihkan.

Sungguh, kisah ini membuat saya merenung dan mengingat. Merenung, mengapa hal ini bisa terjadi? Karena secara perhitungan manusiawi, seharusnya tragedi itu tidak perlu menimpa keluarga imam Eli  ini. Keluarganya sangat terpandang dalam masyarakat. Mereka juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan pendidikan yang sangat baik. Tapi di sisi lain saya juga mengingat, memang sebelumnya sudah pernah ada warning/peringatan  yang sangat jelas diterimanya. Bahwa keluarga ini akan hancur dan tak akan menikmati hasil baik kelak, jika mereka berlarut-larut  hidup dalam perilaku “dursila, buruk, jahat”.

Sayapun termenung dan terhenyak tentang satu pertanyaan “Apakah sifat rohani kita tidak bisa diturunkan kepada anak anak kita?” Sebagai seorang Ibu, nenek, dan seorang yang concern di bidang pendidikan, saya tentu tidak ingin tragedi yang menimpa keluarga Imam Eli menimpa keluarga saya dan keluarga guru-guru serta keluarga anak-anak didik saya kelak. Sebagai seorang yang mendedikasikan diri dalam Institusi Pendidikan dan menerima kepercayaan untuk mendidik anak-anak di sekolah yang sangat menekankan tentang pembangunan sifat rohani, saya terus berdoa dan berharap agar sifat rohani ini bisa saya turunkan kepada anak-anak dan cucu-cucu saya sendiri.

Andai saja anak-anak Imam Eli tidak dursila, andai saja mereka mau mentaati Firman Tuhan , andai saja imam Eli sebagai orang tua bisa tegas dan punya otoritas sebagai orang tua , lalu mau mendidik anak-anaknya dengan memberi teladan yang baik serta mengajarkan Firman Tuhan secara aktif ,maka  tragedi itu pasti tidak terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, sekaligus hal ini menjadi warning buat setiap orang tua maupun para pendidik, bahwa ternyata sifat rohani itu tidak dapat secara otomatis diwariskan tanpa adanya suatu usaha.

Kita perlu belajar dari Nenek Lois dan ibu Eunike. Di dalam II Timotius 1 : 5 “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas , yaitu iman yang pertama tama hidup didalam nenekmu Louis dan didalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga didalam dirimu ( Timotius )”. Melalui ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwa sifat rohani itu seharusnya bisa kita turunkan/wariskan ketika kita benar-benar mendidik anak-anak kita secara aktif dan tegas untuk taat pada Firman Tuhan. Rupanya Lois dan Eunike secara tegas dan aktif menjalankan Firman Tuhan dalam hidup mereka, dan dengan aktif serta tegas pula mereka mengajarkannya kepada Timotius. Alhasil, Timotiuspun mewarisi sifat-sifat rohani  Lois dan Eunike itu di dalam hidupnya. Dan itulah yang menjadi modal bagi Timotius di kemudian hari untuk menjadi pelayan Tuhan yang setia, serta menjadi rekan kerja Paulus yang dapat diandalkan.

Mari, sebagai para pendidik dan orang tua, kita senantiasa memohon anugerah ALLAH Bapa agar dimampukan untuk dapat menurunkan sifat-sifat rohani itu kepada anak anak didik maupun kepada setiap keturunan kita masing-masing.

“Hanya orang tua / pendidik yang konsisten menjalankan Firman Tuhan dan aktif mengajarkannyalah,   yang akan mewariskan sifat-sifat rohani kepada anak-anak (didik) mereka”         

Oleh : RIBKA FERIYANA

Kabag Kurikulum KB-TK-SD , YPK GLORIA

Leave a comment

New Student Registration Information